Luna

Inovasi Omnichannel Ubah Masa Depan Ritel

Tren Industri Grocery AS 2024: Konsolidasi, Omnichannel, dan Lompatan Teknologi

Tren industri grocery AS 2024 menandai fase krusial bagi para peritel di Amerika Serikat. Di tengah ketidakpastian seputar potensi merger raksasa antara Kroger dan Albertsons, baik pemain besar maupun kecil berlomba memperkuat proposisi nilai, pengalaman belanja, serta inovasi omnichannel. Kesepakatan senilai sekitar $24,6 miliar ini dipandang sebagai salah satu peristiwa paling menentukan bagi industri grocery di Amerika Serikat pada 2024. Jika Federal Trade Commission (FTC) menyetujui merger ini—atau jika Kroger menang di pengadilan melawan gugatan regulator—akan lahir raksasa supermarket baru berskala nasional yang berpotensi mengubah peta persaingan secara fundamental.

Dampak merger tersebut berpotensi merembet ke seluruh rantai pasok, struktur harga, hingga dinamika merger dan akuisisi di berbagai wilayah. Sebaliknya, jika kesepakatan ini diblokir atau tersendat oleh proses hukum berkepanjangan, arah tren industri grocery AS 2024 dapat berubah secara signifikan. Di luar isu konsolidasi, lanskap pasar juga dibentuk oleh kekuatan lain: dinamika makroekonomi, perubahan perilaku konsumen, serta percepatan transformasi digital di sektor ritel. Para analis menyoroti kombinasi tekanan dan peluang, mulai dari sensitivitas harga yang masih tinggi hingga ekspektasi terhadap pengalaman belanja yang mulus, baik secara digital maupun di dalam toko.

Ekspektasi tersebut diperkuat oleh perkembangan pesat retail media dan teknologi artificial intelligence (AI) yang mengubah cara peritel memahami, menargetkan, dan melayani pelanggan. Semua dinamika ini memaksa para grocer memperjelas proposisi nilai mereka dan membangun strategi omnichannel yang lebih matang, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks tren industri grocery AS 2024, kemampuan mengintegrasikan kanal fisik dan digital menjadi pembeda utama antara pemain yang memimpin dan yang tertinggal. Peritel yang mampu menggabungkan efisiensi operasional, ketajaman harga, personalisasi, dan pengalaman belanja yang konsisten lintas kanal diperkirakan akan berada pada posisi paling kuat.

Inflasi Mereda, Persaingan Value Semakin Ketat

Seiring tren penurunan indeks harga konsumen di Amerika Serikat, banyak analis memperkirakan inflasi akan terus mendingin pada 2024. Namun, di tingkat rumah tangga, tekanan finansial masih terasa nyata. Konsumen tetap sangat peka terhadap harga, terutama pada kategori kebutuhan pokok. Survei The Conference Board pada akhir 2023 menunjukkan lebih dari 60% rumah tangga berpendapatan menengah masih melakukan penghematan pada pengeluaran grocery.

Neil Stern, CEO Good Food Holdings, memprediksi fase disinflasi yang relatif cepat dan menilai private label sebagai kunci utama strategi value peritel. Seiring meningkatnya pangsa store brand, produsen consumer packaged goods (CPG) nasional menghadapi tekanan kian besar untuk mempertahankan volume dan margin. Data FMI menunjukkan pangsa private label di grocery AS telah mendekati 20% dan cenderung terus naik.

John Clear, senior director di Alvarez & Marsal, memperkirakan produsen brand akan merespons dengan promosi dan insentif agresif demi mempertahankan pangsa pasar. Ia memprediksi 12 bulan ke depan akan diwarnai “perang harga” ketika brand dan peritel bersaing memperebutkan konsumen yang sangat sensitif terhadap biaya. Pertumbuhan volume menjadi prioritas penting karena dalam beberapa tahun terakhir peritel menutupi penurunan unit penjualan dengan menaikkan harga.

Ketika laju kenaikan harga mulai melambat, Stern memperkirakan produsen akan meningkatkan promosi di dalam toko untuk mendorong permintaan dan mempercepat perputaran persediaan. Bobby Gibbs, partner di praktik Retail & Consumer Goods Oliver Wyman, menilai peritel akan berinvestasi lebih besar pada perangkat untuk mengukur price elasticity secara lebih akurat. Teknologi baru dimanfaatkan untuk mengoptimalkan harga rak harian dan promosi, sehingga keputusan harga menjadi lebih presisi dan memberikan return yang lebih tinggi bagi peritel dan pemasok.

Omnichannel Semakin Matang: Integrasi Toko Fisik dan Digital

Setelah bertahun-tahun memperlakukan toko fisik dan e‑commerce sebagai dua bisnis terpisah, para grocer kini bergerak menuju model omnichannel yang lebih terintegrasi dan konsisten. Tren industri grocery AS 2024 menunjukkan bahwa integrasi ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Pertumbuhan cepat retail media network mempercepat pergeseran tersebut karena menghadirkan sumber pendapatan baru dan data pelanggan yang lebih kaya serta terstruktur.

Tom Furphy, mantan eksekutif Amazon yang kini menjabat CEO Replenium, memperkirakan para grocer akan mendesain ulang mobile app agar lebih relevan digunakan di dalam toko. Ia juga melihat adopsi alat seperti electronic shelf label untuk menghadirkan penawaran yang lebih dinamis dan personal berdasarkan lokasi, waktu, dan profil pelanggan. Menurutnya, peritel harus melampaui sekadar mengelola layanan pickup dan delivery, dan mulai membangun ekosistem omnichannel yang utuh dan relevan bagi shopper yang semakin digital savvy.

Jordan Berke, mantan eksekutif e‑commerce Walmart yang kini memimpin Tomorrow Retail Consulting, menegaskan bahwa toko fisik tetap menjadi kunci untuk memenangkan masa depan grocery. Ia berpendapat peritel harus menjadikan app mereka sebagai “all‑channel utilities” yang menyatukan fungsi belanja, promosi, loyalty, dan customer service. Artinya, app tidak hanya berfungsi sebagai portal e‑commerce atau alat loyalty, tetapi sebagai platform yang memperkaya setiap aspek customer journey, baik online maupun offline.

Merger Kroger–Albertsons dan Gelombang Konsolidasi

FTC memiliki batas waktu hingga 17 Januari untuk memutuskan apakah akan menggugat merger Kroger–Albertsons yang bernilai sekitar $24,6 miliar. Industri mencermati proses ini dengan sangat seksama karena implikasinya terhadap struktur pasar dan konsentrasi kepemilikan. Jika disetujui, kesepakatan tersebut akan menghadirkan C&S Wholesale Grocers sebagai kompetitor besar baru di pasar-pasar di mana mereka akan mengambil alih toko yang harus dilepas sebagai bagian dari paket divestasi.

Wilayah operasi Good Food Holdings di West Coast diperkirakan termasuk dalam area yang terdampak oleh rencana divestasi tersebut, sehingga peta persaingan lokal berpotensi berubah signifikan. Neil Stern memperkirakan akan terjadi “shake‑up” besar dalam real estat grocery dan gelombang konsolidasi ketika perusahaan menata ulang posisi mereka dan mengoptimalkan portofolio toko. Berbagai laporan investasi menunjukkan bahwa transaksi merger dan akuisisi di sektor grocery meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Rodney McMullen, chairman dan CEO Kroger, menyatakan bahwa ia berharap transaksi ini selesai pada awal 2024, meski proses regulasi masih berlangsung. Kroger juga memberi sinyal siap bertarung di pengadilan jika FTC berupaya memblokir merger, yang berpotensi memperpanjang ketidakpastian bagi pasar yang lebih luas. Hal ini menambah kompleksitas tren industri grocery AS 2024, karena banyak keputusan investasi dan ekspansi menunggu kejelasan hasil proses tersebut.

Dominasi Walmart dan Pertarungan Layanan On‑Demand

Walmart memperkuat posisi grocery-nya yang sudah sangat kuat sepanjang 2023 dan bersiap memperlebar jarak pada 2024, terutama di kanal online. Data dari Numerator dan berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa Walmart menguasai lebih dari seperempat pangsa pasar grocery AS, menjadikannya pemain dominan. “Walmart sedang berjalan sangat optimal,” ujar Berke, yang menilai strategi harga, assortment, dan logistik perusahaan tersebut sangat terkoordinasi.

Ia memperkirakan Walmart akan naik dari hebat menjadi lebih hebat lagi, khususnya di kategori food dan consumables yang menjadi tulang punggung arus pelanggan. Kombinasi grocery dan general merchandise menciptakan cross‑traffic yang kuat, sehingga “satu tambah satu sama dengan sebelas” dalam hal frekuensi kunjungan dan nilai keranjang belanja. Strategi everyday low price yang konsisten juga memperkuat persepsi value di mata konsumen yang sensitif terhadap harga.

Berke memprediksi Walmart akan semakin fokus pada express delivery dengan janji pemenuhan pesanan dalam 30 hingga 90 menit untuk area tertentu. Secara historis, Walmart tidak seagresif pemain seperti Instacart dalam delivery di bawah dua jam, tetapi perubahan perilaku konsumen mendorong percepatan. Platform gig Spark Driver milik Walmart memberikan fondasi kuat untuk bersaing di segmen tersebut dengan memanfaatkan jaringan mitra pengemudi yang luas.

Berke melihat “on‑demand window” sebagai medan pertempuran utama untuk e‑commerce grocery pada 2024 karena konsumen semakin mengharapkan kecepatan dan fleksibilitas. Dalam kerangka tren industri grocery AS 2024, kemampuan memenuhi pesanan secara cepat dan andal menjadi faktor diferensiasi penting. Peritel yang tidak mampu bersaing dalam layanan on‑demand berisiko kehilangan pelanggan berfrekuensi tinggi kepada pemain yang lebih responsif.

Menciptakan Ulang Pengalaman In‑Store

Untuk menarik shopper kembali ke toko, para grocer mengandalkan keaslian, inovasi kuliner, dan pengalaman food yang lebih menarik dan relevan. Stern menilai industri ini “mulai terasa sedikit basi” dan perlu “menaikkan level food game” untuk menyesuaikan diri dengan selera konsumen yang semakin beragam. Ia mencontohkan toko Wegmans di Manhattan yang menghadirkan pilihan ikan bergaya Jepang, serta konsep Mercado milik Northgate Market yang menghadirkan vendor dengan hidangan Meksiko autentik seperti churros.

Pendekatan tersebut mencerminkan pergeseran dari sekadar menjual produk menjadi menciptakan destinasi kuliner yang mendorong kunjungan berulang. Anne Mezzenga, co‑CEO OmniTalk dan mantan eksekutif Target, memperkirakan akan ada lebih banyak investasi pada konsep “smart store” yang menghubungkan berbagai teknologi. Schnuck Markets, misalnya, menggunakan robot yang berkeliling aisle dan electronic shelf label untuk memantau harga dan ketersediaan produk secara real time.

Perangkat ini membantu mengurangi shrink, meningkatkan visibilitas persediaan, dan menciptakan semacam “main brain” untuk operasi toko yang lebih terkoordinasi. Pada saat yang sama, teknologi tersebut memperbaiki customer experience secara keseluruhan dengan mengurangi out‑of‑stock dan mempercepat proses belanja. Mezzenga menekankan pentingnya pemanfaatan data pelanggan untuk mendukung personalisasi yang konsisten di seluruh kanal.

“Kalau saya datang ke toko, kamu harus mengenal saya sebaik kamu mengenal saya secara online,” ujarnya, menyoroti pentingnya integrasi profil pelanggan. Tingkat pemahaman seperti itu memungkinkan peritel menghadirkan pengalaman in‑store yang personal dan mampu menyaingi kenyamanan curbside pickup atau delivery. Dalam konteks tren industri grocery AS 2024, personalisasi lintas kanal menjadi salah satu pilar utama diferensiasi dan loyalitas.

Fulfillment dan Automation: Mencari Model yang Paling Efisien

Keputusan Kroger pada 2023 untuk menghentikan sementara ekspansi automated fulfillment center yang dikembangkan bersama Ocado menandai peninjauan ulang terhadap model centralized e‑commerce fulfillment. Langkah ini menunjukkan bahwa model yang sangat terpusat belum tentu optimal untuk semua pasar dan profil permintaan. Mezzenga melihat langkah ini sebagai sinyal bahwa lebih banyak grocer akan beralih ke model hybrid automation yang lebih fleksibel.

Pendekatan tersebut mengintegrasikan automation ke dalam regional distribution center atau toko besar, alih-alih hanya mengandalkan fasilitas terpisah yang memerlukan investasi besar. Pada pertengahan Agustus, Giant Food mengumumkan penutupan tiga fasilitas e‑commerce di Maryland, Virginia, dan Delaware. Perusahaan tersebut beralih ke “localized fulfillment model” yang lebih selaras dengan ekspektasi pelanggan terhadap kecepatan, biaya, dan fleksibilitas pengiriman.

Clear memperkirakan para grocer akan memprioritaskan teknologi in‑store dan front‑of‑house yang mengoptimalkan tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas. Electronic shelf label dan robot pemindai persediaan, misalnya, dapat mengurangi waktu untuk tugas rutin seperti mengganti price tag dan melakukan pengecekan stok. Dengan demikian, karyawan dapat fokus pada customer service dan aktivitas bernilai lebih tinggi yang berdampak langsung pada pengalaman belanja.

Retail Media Network: Dari Data Menjadi Kekuatan Media

Setelah fase adopsi yang sangat cepat, retail media network memasuki tahap kedewasaan baru dengan fokus pada efektivitas dan pengukuran. Banyak grocer bergerak cepat memonetisasi data pelanggan, tetapi Furphy menilai pemanfaatan data tersebut masih jauh dari optimal. Ia memperkirakan peritel akan meningkatkan kemampuan personalisasi secara signifikan pada 2024 seiring pendalaman kompetensi di bidang AI dan data science.

Di sisi lain, Furphy mengingatkan bahwa peritel dan pengiklan harus berhati-hati agar tidak membanjiri konsumen dengan pesan pemasaran yang berlebihan. Berke memprediksi jaringan terdepan—terutama milik Amazon, Walmart, dan Target—akan berkembang menjadi “pilar Madison Avenue” baru. Mereka akan bersaing langsung dengan perusahaan media tradisional berkat kekuatan insight audiens, skala jangkauan, dan kualitas konten yang mereka miliki.

Gary Hawkins, founder dan CEO Center for Advancing Retail & Technology, memperkirakan platform retail media akan memberikan visibilitas yang lebih detail kepada produsen CPG. Produsen akan dapat melihat secara jelas bagaimana iklan mendorong pembelian produk tertentu pada level toko, kategori, dan segmen pelanggan. Insight tersebut kemudian dapat digunakan untuk merancang kampanye yang lebih luas, melampaui kerja sama dengan satu peritel saja, dan memperkuat strategi omnichannel marketing.

AI dan Generative AI Mengubah Wajah Omnichannel

AI tradisional dan generative AI diperkirakan akan mengubah operasi back‑end dan pengalaman customer‑facing pada 2024 secara lebih sistematis. Gibbs mencatat bahwa generative AI sudah mulai memengaruhi push notification dan personalisasi one‑to‑one secara online melalui pesan yang lebih relevan dan kontekstual. Integrasi teknologi ini ke dalam grocery app dan website diperkirakan akan semakin dalam seiring meningkatnya kemampuan komputasi dan ketersediaan data.

Gibbs menyoroti munculnya “conversational commerce”, di mana shopper berinteraksi dengan platform menggunakan bahasa natural melalui teks atau suara. Pendekatan ini menggantikan pola lama yang mengandalkan keyword search atau chatbot kaku yang terbatas pada skenario tertentu. Ia mencatat bahwa rekomendasi paling akurat masih datang dari AI tradisional yang mengandalkan model prediktif berbasis data historis.

Namun, generative AI dapat memperkuat sistem tersebut, misalnya dengan mendukung image generation, konten resep, atau pengalaman konten yang lebih kaya dan inspiratif. Tool “Ask Instacart” yang diluncurkan pada Mei 2023 menjadi ilustrasi jelas tren ini. Fitur search berbasis generative AI tersebut memungkinkan pelanggan menggunakan bahasa sehari-hari untuk menemukan produk, resep, tips persiapan, dan lainnya dalam satu alur.

Fitur ini menggabungkan fungsi search, inspirasi, dan panduan dalam satu interface yang intuitif dan mudah digunakan. Dalam kerangka tren industri grocery AS 2024, integrasi AI dan generative AI diperkirakan akan menjadi salah satu pendorong utama inovasi omnichannel. Peritel yang mampu memanfaatkan teknologi ini secara bertanggung jawab dan efektif berpotensi memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan.

Tekanan Volume dan Agenda Modernisasi Industri

Meski inflasi mereda, konsumen masih membeli lebih sedikit grocery, dan belum ada tanda kuat bahwa volume akan segera pulih ke tingkat pra-pandemi. Berbagai laporan industri menunjukkan bahwa pertumbuhan nilai penjualan lebih banyak didorong oleh kenaikan harga daripada volume unit. Peritel merespons dengan kombinasi strategi: harga yang lebih tajam, perluasan private label, peningkatan pengalaman in‑store, serta digital engagement yang lebih canggih.

Dalam kerangka tren industri grocery AS 2024, kemampuan menggabungkan semua elemen tersebut menjadi keunggulan kompetitif yang krusial. Adopsi teknologi menjadi bagian integral dari respons ini, terutama untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan personalisasi. Menjelang awal 2026, lebih dari dua pertiga peritel pangan yang disurvei FMI melaporkan telah menggunakan teknologi canggih tertentu, termasuk AI, automation, dan analitik lanjutan.

Angka ini naik dari sekitar 47% setahun sebelumnya, menandakan bahwa industri ini dengan cepat memodernisasi operasi dan antarmuka dengan pelanggan. Sepanjang 2024, interaksi antara konsolidasi, inovasi omnichannel, retail media, dan AI akan menentukan grocer mana yang mampu menghadirkan value dan pengalaman yang benar-benar menarik. Peritel yang gagal beradaptasi berisiko tertinggal dalam pasar yang berubah sangat cepat dan semakin kompetitif.

Dalam perspektif yang lebih luas, tren industri grocery AS 2024 menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh skala, tetapi juga oleh kemampuan berinovasi dan berkolaborasi. Peritel yang mampu memanfaatkan data secara bertanggung jawab, mengintegrasikan teknologi dengan proses bisnis, dan menjaga fokus pada kebutuhan konsumen akan berada pada posisi yang lebih kuat. Transformasi yang terjadi pada 2024 berpotensi menjadi fondasi bagi model grocery yang lebih efisien, inklusif, dan berorientasi jangka panjang.

Latest Articles

View All Posts